OPTIMASI PERALATAN BONGKAR MUAT SEMIAUTOMATIC CONTAINER DI TERMINAL TELUK LAMONG (TTL) BERDASARKAN RENCANA PENGEMBANGAN PELABUHAN BARU

Penulis

  • I Gede Widya Mahardika Departemen Teknik Sistem Perkapalan, Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember
  • R.O. Saut Gurning Departemen Teknik Sistem Perkapalan, Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember
  • A. A. B. Dinariyana. D. P. Departemen Teknik Sistem Perkapalan, Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Kata Kunci:

Peralatan, Bongkar Muat, Container, Proses

Abstrak

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup stabil selama beberapa tahun di titik 5% memberi dampak pada seluruh komponen sektor perdagangan, khususnya pelabuhan. Terminal Teluk Lamong (TTL) sebagai salah satu pelabuhan di Jawa Timur mengalami dampak signifikan, khususnya pada tahun 2017 mengalami kenaikan nilai container throughput sebesar 103,31 %. Sejalan dengan peningkatan jumlah container, TTL sedang melakukan pengembangan pelabuhan dalam 4 tahap berupa pengembangan infrastruktur dan peralatan bongkar muat. Agar dapat melayani container yang jumlahnya meningkat tiap tahun dengan optimal, maka perlu dilakukan optimasi dalam pengembangan pelabuhan. Untuk itu pada penelitian ini dilakukan optimasi peralatan bongkar muat khusus container pada tahap akhir pengembangan menggunakan metode simulasi. Simulasi dilakukan menggunakan software ARENA. Tahap awal penelitian adalah membuat model simulasi pada saat ini (existing) berdasarkan proses bongkar muat TTL. Input dari model simulasi adalah waktu jeda (delay) kedatangan kapal, kedatangan container, dan waktu proses tiap peralatan bongkar muat. Model simulasi kemudian divalidasi agar dapat mewakili proses bongkar muat di TTL. Peralatan bongkar muat yang akan dioptimasi adalah STS (Ship-to-shore crane) dan CTT (Combined Terminal Trailer). Penelitian ini akan mengkomparasi STS dengan performa B/C/H (box/crane/hour) yang berbeda untuk mengetahui kebutuhan minimum penambahan STS agar dapat melayani hingga 5.500.000 TEUs tiap tahunnya. Selanjutnya adalah menentukan jumlah penambahan CTT yang optimal untuk sesuai dengan penambahan blok CY pada pengembangan tahap akhir. Berdasarkan penelitian ini, didapat hasil jumlah penambahan CTT perlu ditambah sebanyak 70 buah dengan sistem operasional dedicated ke tiap blok CY. STS ditambah sebanyak 23 jika dioperasikan pada performansi 24 B/C/H dengan batas kinerja pelabuhan 60% dan sebanyak 28 pada performansi 22 B/C/H dengan batas kinerja pelabuhan 50%.

Referensi

BPS (2018) ‘STATISTIK Pertumbuhan Ekonomi’, (40), pp. 1–12.

Gurning, S. (2017) EVALUASI TERMINAL TELUK LAMONG ( TTL ).

Hidayat, E. (2009) ‘Manajemen Kepelabuhanan’, 02(04), pp. 202–213.

Hidayat, E. (2010) Perencanaan, Perancangan dan Pembangunan Pelabuhan. II. Jakarta: PT Pelabuhan Indonesia (Persero).

Junior, W. (2018) ‘Discrete Simulation-based Optimization Methods for Industrial Engineering Problems: A Systematic Literature Review’, Computers & Industrial Engineering. Elsevier Ltd. doi: 10.1016/j.cie.2018.12.073.

R.O. Saut Gurning, E. H. B. (2007) Manajemen Bisnis Pelabuhan. Edited by 1. APE Publishing.

Ravitharan, R. et al. (2017) ‘Rail Infrastructure in Port City – Surabaya , Indonesia’, Procedia Engineering. The Author(s), 188, pp. 486–492. doi: 10.1016/j.proeng.2017.04.512.

UNCTAD (1985) Port development.

World Bank (2018) Gross Domestic Product 2017.

Diterbitkan

10-10-2022

Cara Mengutip

Mahardika, I. G. W., Gurning, R. S., & A. A. B. Dinariyana. D. P. (2022). OPTIMASI PERALATAN BONGKAR MUAT SEMIAUTOMATIC CONTAINER DI TERMINAL TELUK LAMONG (TTL) BERDASARKAN RENCANA PENGEMBANGAN PELABUHAN BARU. Prosiding Seminakel, 11–18. Diambil dari https://prosidingseminakel.hangtuah.ac.id/index.php/jurnal/article/view/123

Terbitan

Bagian

Komisi C5