UPAYA PEMANFAATAN BENIH IKAN KERAPU CANTANG YANG MEMPUNYAI BENTUK ABNORNMAL (CACAT) UNTUK KEBUTUHAN BUDIDAYA

Suko Ismi

Abstract


Benih kerapu yang cacat biasanya mempunyai harga yang sangat murah dan bahkan tidak laku untuk dijual untuk  kerapu cantang karena mempunyai pertumbuhan yang cepat benih yang cacat masih bisa dimanfaatkan yaitu untuk benih pada produksi kerapu konsumsi yang pemasarannya dalam betuk fillet. Tujuan penelitian ini adalag memanfaatkan benih ikan kerapu cantang yang cacat untuk benih budidaya sehingga mempunyai nilai tambah dan dapat menjadi satu usaha yang menguntungkan. Penelitian dilakukan di usaha pendederan yang berlokasi di Desa Banyuasri, Buleleng - Bali, selama 120 hari dari bulan Pebruari – Juni 2018. Benih  yang dipakai pada penelitian ini adalah ikan kerapu cantang yang cacat ( insang terbuka, mulut bengkok dan ekor lancip) dengan ukuran panjang rata-rata 6,50 ± 0,46 cm dan berat 6,21 ± 1,30 g, jumlah 9.000 ekor. Ikan dipelihara  pada 3 buah bak beton ukuran 2,0 x 3,0 x 1,2 m yang diisi air laut dengan volume 5,0-6,0 m3 dengan kepadatan ikan masing-masing 3.000 ekor/bak, setiap 30 hari kepadatan ikan dijarangkan hingga menjadi 9 bak dengan kepadatan antara 700-900 ekor/bak. Hasil penelitian panjang rara-rata 19,91±0.37 cm dan berat 102,35 ± 2,75 g, kelangsungan hidup 82,30% dengan total produksi 740,7 kg, penjualan benih mengacu pada berat ikan dengan harga Rp.100.000/kg. Hasil analisis menunjukan usaha menghasilkan  R/C ratio 1,68 salama satu siklus produksi, artinya usaha tersebut menguntungkan.

Keywords


benih; cacat; ikan kerapu cantang; menguntungkan

Full Text:

PDF

References


Breuil, G., B. Vassiloglou, J.F. Pepin, B. Romestand. 1997. Ontogeny of IgM-bearing cells and changes in the immunoglobulin M-like protein level (IgM) during larval stages in sea bass (Dicentrarchus labrax). J.Fish & Shellfish Immunology, 7 (1): 29-43.

Heerin SV. 2002. Technology transfer-backyard hatcheries bring jobs, growth to Bali. Global Aquaculture Advocate, December 2002. pp. 90-92.

Ismi, S. 2006. Beberapa mcam cacat tubuh (abnormalitas) kerapu bebek (Cromileptes altivelis) dari hasil hatcheri. Dalam Rachmanyah et al., (eds.). Prosiding Konferensi Nasional Akuakultur Makasar 23-25 Nov. 2005. Masyarakat Akuakultur Indonesia 2006. Hlm.: 250-254.

Ismi, S., dan Y. N. Asih. 2011. Perkembangan telur dan tingkah laku larva kerapu hybrid cantang. Dalam Sudradjat et al., (eds.). Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur. Bali19-21 Juli 2011. Hlm.:9-12.

Ismi, S., Y.N. Asih, D.Kusumawati dan T.H. Prihadi. 2012. Pendederan benih kerapu sebagai usaha untuk meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir. Dalam: Karmiadji et al., (eds.). Prosiding Seminar Insentif Riset SINas (INSINas 2012). Bandung, 29-30 November 2012. Hlm. 312-318.

Ismi S, Y.N. Asih. 2014. Peningkatan jumlah dan kualitas produksi benih ikan kerapu melalui pengkayaan pakan alami. J. Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 6 (2):403-414.

Novriadi, R. S. Agustatik, Hendrianto, R. Pramuanggit dan A. Hariwibowo.2014. Penyakit infeksi pada budidaya ikan laut di Indonesia. Kementrian kelautan dan Perikanan, Direktorat Jendral Perikanan Budidaya, Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan. 35 hlm.

Odat, N. 2003. Length-weight relationship of fishes from coral reefs along the coastline of Jordan (Gulf of Agaba). Naga, 26(1): 9-10.

Rahardjo, M.F., D.S. Sjafei, R. Affandi, Sulistiono dan J. Hutabarat. 2011. Iktiology. Bandung. C.V. Lubuk Agung. 309 hlm.

Siar SV, W.L . Johnston , S.Y. Sim. 2002. Study on economics and socio-economics of small-scale marine fish hatcheries and nurseries, with special reference to grouper systems in Bali, Indonesia. Report Prepared under Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) Project FWG 01/2001: ‘Collaborative APEC Grouper Research and Development Network’. Asia-Pacific Marine Finfish Aquaculture Network Publication 2/2002. Network of Aquaculture Centres in Asia-Pacific:Bangkok, Thailand. 14 p.

Soekartawi SW. 1991. Teori ekonomi produksi dengan pokok bahasan analisa fungsi. Cobb Douglass.Raja Gafindo Persada. Jakarta. 226 p.

Soekartawi SW. 2001. Agribisnis teori dan aplikasinya. Raja Gafindo Persada. Jakarta. 256 p.

Sagala, S.L., S. Ismi, & N.A. Giri. 2010. The effect of vitamin C (L-Ascorbyl Monophosphate-Mg) on the deformity performance of humpback grouper (Cromileptes altivelis) larvae. Indonesian Aquaculture Journal 5(1): 29-36.

Sugama, K., M.A. Rimmer, S. Ismi, I.Koesharyani, K. Suwirya, N.A. Giri and V.R. Alava. 2012 . Hatchery management of tiger grouper (Epinephelus fuscoguttatus) : a best-practice manual. Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) 2012. 66 p.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2020 Prosiding Seminakel

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

Creative Commons License
Prosiding SEMINAKEL UHT by Fakultas Teknik dan Ilmu Kelautan is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Based on a work at http://prosidingseminakel.hangtuah.ac.id/index.php/ps/index.